Sesombong itu segumpal jantung ketika ia mengira dua lembar jiwa memadatinya. Nyaris ingin menerobos padang bunga liar dengan cahaya matahari pagi yang takluk, tak peduli mana yang terinjak, mana yang selamat. Dengung sayap lebah semenit lalu, atau angin wangi yang barusan berhenti, mungkinkah menjadi lembar berikutnya?
Satu jiwa semu, satu jiwa hampa, dalam ruang penuh praduga. Tidakkah ia sadar semua ini hanya peran? Akal sehatnya telah mengambang terlalu jauh di langit yang konon berlapis tujuh. Terlalu jauh untuk mendarat.
Biarkan ia menertawai dirinya suatu hari nanti, setelah segala kebenaran tersaji rapi di sela-sela uratnya. Tergambar dia akan membumi tanpa jiwa-jiwa malang itu. Daratan tak akan terasa jauh lagi. Yang terselip akan menghambur menemukan ruang yang semestinya, melupakan segumpal jantung yang sombong.
Comments
Post a Comment