Di petang yang hujan pada batas terang dan gelap, napasmu terhela di beranda yang sempit. Nyaris terhimpit wajah-wajah asing dan segelinding firasat polos tak terarah. Firasat? Tak sepatutnya diakui, tapi dia ada entah sejak berapa puluh menit sebelumnya. Penunjuk jalan yang tak bisa diandalkan.
Lampu-lampu semakin terang selagi langit menghitam. Pandangan teredar dan terkunci pada satu kaca tembus pandang. Separuh buram, separuh cemerlang. Separuh wajah membuatku tercengang. Entah karena hujan di luar atau karena pendingin ruangan yang abai, penaku bergetar. Tekanan darah rendah? Atau justru tinggi? Sepertinya, ada kulit yang lebih cepat menerjemahkan separuh wajah daripada mata yang membingkai sebongkah tubuh.
Natal belumlah tiba ketika kau dikelilingi asap sepekat residu kembang api malam Tahun Baru. Bukan dari masyarakat awam yang tak kenal siapa kita yang hilir mudik di depan sana. Bukan pula dari kenangan buruk anak sekolah yang sedang ujian akhir semester. Tengkorak diputar, penuh dengan isyarat. Tidakkah kedua bahu itu lelah memberi tanda? Seperti apa yang terjadi di hari ulang tahunku dua tahun lalu, kali ini tanpa petak umpet. Tapi bicara, ah, bicara... adalah sebuah legenda dari tahun 2007.
Comments
Post a Comment