Orang-orang berkeliaran dalam kemasan terbaik mereka, di suatu kota yang hanya ada dalam kesadaran yang berbeda. Langit cerah, napas beruap. Keceriaan yang ganjil di antara gedung-gedung tiga lantai dengan dinding beraksen bata klasik dan ramping tiang-tiang listrik.
Coba belok ke belakang sana, ke tempat-tempat mereka tertawa. Coba belok lagi, entah peta mana yang harus diikuti. Hingga tiba di meja untuk berdua, menghadap lapangan dengan pepohonan yang masih gundul hari itu.
Orang-orang berdatangan dari jalan-jalan tersembunyi macam titik belok pertama kali. Asing. Ketika yang familiar berlalu, pasti suaraku tak akan sampai. Kau tampak tenang, tidak seperti yang kudengar di dunia nyata. Kau kenakan mantel kesayanganmu, sama seperti mereka dan kemasannya. Oh, sejak kapan kita beriringan?
Kulit mengering. Aku ingin lekas pulang, entah ke mana aku tinggal di kota itu. Kau masih betah mengamati. Mengawasi? Tanpa obrolan dan sesapan teh, kita lanjutkan duduk di sana, di suatu kota yang hanya ada dalam kesadaran yang berbeda.
Comments
Post a Comment