Dulu sekali, di antara dua bangku yang berseberangan, ada kata-kata yang disimpan dengan susah payah dalam tatapan yang hanya bisa beredar kurang dari sedetik. Berbincang bukanlah pilihan. Bahkan ketika suatu hari kedua bangku itu bersebelahan, berbincang tetap bukanlah pilihan.
Siapa yang bisa memahami bahasa itu?
Satu dari mereka lalu mendapat peluang untuk pergi. Tepatnya pulang. Dengan tenaga lebih, dia yang akan ditinggal berusaha berkata-kata, berusaha dikenang dengan baik oleh yang akan pulang. Dia bersuara, tetapi kata-kata yang keluar tidak sama dengan kata-kata yang disimpan dalam tatapannya. Dia bersuara, menyelamati, menyalami, dan mendoakan. Mereka kikuk sekali hari itu. Seperti terlalu cepat mengucapkan selamat tinggal.
Lalu tanpa diketahui kapan terjadinya, dia yang pulang sudah sampai di rumahnya. Disambut oleh orang-orang yang ada di dalamnya.
Yang ditinggal tak bisa mengamati dengan begitu jelas. Tak ada penyesalan akan apa yang terjadi di antara dua bangku yang dulu bertemu. Yang dia tahu, dia baru saja menutup pintu dengan senyum perpisahan.
Yang ditinggal tak bisa mengamati dengan begitu jelas. Tak ada penyesalan akan apa yang terjadi di antara dua bangku yang dulu bertemu. Yang dia tahu, dia baru saja menutup pintu dengan senyum perpisahan.
Comments
Post a Comment