Untuk yang Tiba-Tiba Muncul

Waktu itu hari ulang tahunku yang memang selalu kulewati sendirian. Waktu itu hari ulang tahunku yang seharusnya tidak ada kejadian di luar rencana terjadi. Waktu itu hari ulang tahunku, dan hariku hampir bisa kututup dengan manis ketika aku lihat sosokmu duduk di depan tujuanku.

Sudah berapa lama tak ada tegur sapa? Sudah waktunyakah bagi kita untuk usai dan mulai? Memasuki tahun ke sepuluh berdiam diri bukan sesuatu yang kubanggakan, tapi juga tidak aku takutkan. Sekilas aku pernah mendengarmu berbicara dengan nada bahagia, beberapa saat kemudian terkuak sosok yang tengah kau sayang. Sudah waktunyakah kita bertukar salam? Kurasa belum. Aku masih menolak. Mungkin masih dendam. Mungkin pula kau masih dendam.

Bagi sebuah tempat, rasanya tidak mungkin dua orang dari sepuluh tahun lalu bisa tiba-tiba berada di sana tanpa janji. Bagiku, rasanya tidak mungkin itu akan terjadi lagi.

Comments