Pada akhirnya, terakhir kali kita bertemu adalah ketika kau berseragam abu-abu dan aku berseragam biru. Bertahun-tahun berikutnya kita mengelana ke arah berlainan, sampai akhirnya seseorang dan sesuatu membuat kita bertegur sapa dengan baik. Padahal sebelumnya kita terlalu malu untuk bicara, terutama ketika seragammu juga masih biru. Bocah.
Kita adalah segelintir bukti nyata manusia paling dramatis. Sudah bisa bertukar kabar setiap hari tidak menjamin adanya sebuah pertemuan. Sepertinya teknologi hanya memberi keajaiban sampai di situ. Kita kembali pada arah kita masing-masing tanpa saling menoleh lagi. Setidaknya semua yang kita ingin ucapkan di masa lalu akhirnya tersampaikan meskipun suasana sudah berbeda. Aku rasa itu yang kita cari.
Lalu beberapa malam lalu, dengan jalan kecanggihan lagi kau muncul. Kali ini tanpa tegur sapa dan basa-basi. Aku tahu kau sudah jadi pahlawan yang disayang. Pendamping yang setia serta gadis kecil yang bahagia. Berbagai macam doaku mengalir begitu saja. Selamat. Selamat. Selamat.
Kita adalah segelintir bukti nyata manusia paling dramatis. Sudah bisa bertukar kabar setiap hari tidak menjamin adanya sebuah pertemuan. Sepertinya teknologi hanya memberi keajaiban sampai di situ. Kita kembali pada arah kita masing-masing tanpa saling menoleh lagi. Setidaknya semua yang kita ingin ucapkan di masa lalu akhirnya tersampaikan meskipun suasana sudah berbeda. Aku rasa itu yang kita cari.
Lalu beberapa malam lalu, dengan jalan kecanggihan lagi kau muncul. Kali ini tanpa tegur sapa dan basa-basi. Aku tahu kau sudah jadi pahlawan yang disayang. Pendamping yang setia serta gadis kecil yang bahagia. Berbagai macam doaku mengalir begitu saja. Selamat. Selamat. Selamat.
Comments
Post a Comment