Untuk yang Menandai Pintu Depan

Sebuah ruangan, dengan kursi dan jendela, serta papan tulis murah yang bersih dari segala dosa.

Dengan penghuni yang tak sampai di baris ke tiga, dengan penunjuk arah berdiri di depan.

Dengan lantai cerah, yang sepi dari segala jejak setiap kali matahari merosot sedikit ke barat.

Dengan lorong panjang tak berseni yang kadang-kadang dikira berhantu.

Yang sekarang sudah tak berdiri lagi, tertimpa oleh ruangan lain yang lebih bermartabat.

Yang terlupakan oleh para tunas muda.

Tergantikan oleh kenang-kenangan yang lebih anyar, lebih segar.

Terpojok oleh tumpukan cerita-cerita lain.

Menyisakan sepenggal dialog pembuka, sepasang salam dan nama.

Sebuah identifikasi yang dimulai di masa silam.

Comments