Untuk yang Hendak Menutup Kalender

Lantai berderit. Dari kayu ia ditata. Sedikit berdebu, setumpuk kenangan. Satu pintu, satu jendela, dengan tirai cerah yang lemah diterobos cahaya menjelang siang.

Dinding lembab. Tak pernah terpapar cat. Semakin ke pojok, semakin dingin. Sesekali kalender dipajang, sesekali pigura dipasang. Kali ini, sepertinya ada lagi potret yang dicabut. Diturunkan dari singgasana sebesar paku.

Satu ruangan dengan atap, tanpa dapur, tanpa kasur. Satu ruangan kayu yang dibangun sejak aku lupa mengapa ia dibangun. Ah, imajinatif. Satu meja dan kursi tempat seonggok jiwa merenung tersedia di sana. Tumpukan pigura-kayu usang tak jauh dari mereka. Tertelungkup, ditambah satu dari yang baru. Antiklimaks.

Comments