Serpihan randa tapak mengarungi udara tanpa kenal tempat melandas. Terkadang serpih satu bertemu dengan serpih lain, lalu berpisah lagi, menuruti alur yang tak berkesudahan. Jika saja dua dari mereka ingin, di atas tanah ada banyak sekali gundukan tanah dan kayu-kayu tua yang bisa saja mereka pelihara. Tapi randa tapak terlalu kecil untuk menampung inisiatif sedahsyat itu. Mereka lebih patuh pada angin takdir.
Comments
Post a Comment