Untuk yang Bersandar Pada Gunung

Waktu itu kita tertawa bersama-sama. Kau di kota yang dingin, aku di kota yang hangat. Tidak ada hujan deras maupun gerimis. Tidak ada angin. Tidak ada petir.

Tapi sepertinya, sesuatu membawamu pergi.

Hari berikutnya aku mulai bertanya-tanya apa kau menemukan pegunungan baru untuk kau huni. Hari berikutnya aku memaklumi segala derap yang mungkin kau suarakan di kejauhan. Hari berikutnya menggenapi satu minggu keheningan dari tempat terakhir kita berbincang.

Meskipun mataku tak berani terbuka lebar dan punggungku teramat berat, aku sudah kenal rasa sakit ini. Sedikit terbiasa, meski harus berkali-kali meringkuk. Adalah sebuah simpul yang rumpang, dengan satu bagian benang yang siap putus kapan saja. Aku terlambat menyadari buruknya simpul itu. Aku juga tak berdaya memanggil namamu.

Comments