Sesunyi apa isi kepalamu hingga kau bisa berbincang dengannya? Di lereng yang landai dan berangin, kicauan burung di mana-mana, sendirikah engkau? Rumput hijau bekas ditempa musim hujan masih luas, tak lebih tinggi dari mata kakimu, tidakkah menemani?
Atau, kembali saja ke kota itu, di mana apartemen-apartemennya kerap kau abadikan, juga lampu-lampunya ketika aku sudah mengakhiri hari. Kembali saja ke sebuah meja, melanjutkan sisa obrolan yang terputus setahun lalu, dan menyesap isi cangkirmu. Aku tak akan lari. Aku masih terus mengagumi.
Comments
Post a Comment