Aku selalu bercerita tentang kursi dan jendela setiap kali aku bercerita tentang dirimu. Juga tentang angin yang terus-menerus merebut jejak-jejakmu dari wilayah pandangku. Kutuliskan sedemikian rupa agar tak ada yang menerka siapa dirimu.
Tiba-tiba saja, ada sebuah jendela kau ceritakan pada khalayak. Ada noda pada kacanya, dan mungkin ada pula kenang-kenangan darimu. Sebuah jendela yang jiwamu datangi.
Mungkin kita perlu bercangkir-cangkir teh untuk membahas jendela itu.
Comments
Post a Comment