Kubuka pintu. Deru kendaraan di jalan terganti seketika dengan frekuensi yang lebih lirih. Aroma kopi dan coklat menguar sedikit tercampur dengan bau racikan cengkih dan tembakau. Serentak wajah-wajah ramah tersenyum memberikan salam terbaik mereka. Alih-alih diucapi selamat datang, aku merasa selamat pulang.
Tapi tak ada kamu di antara mereka.
Tapi tak ada kamu di antara mereka.
Di sini, hari berjalan cepat. Tak ada yang lebih awet daripada ampas kopi di dinding gelas. Sidik jari lekas berganti, jejak kaki lekas pergi. Sibuk sekali. Mengais-ngais kenangan keberadaanmu hampir tak berarti.
Atap terakhir tempat kita bertemu.
Comments
Post a Comment