Untuk yang Berbisik dengan Hati-hati

Berganti-ganti angin, kalender telah menahun. Seperti yang terburai di udara, entah kembang entah daun, ada saja yang memulai siklusnya lagi. Benih, tunas, mekar, hilang. Kadang-kadang ada pertemuan di antaranya. Kadang-kadang ada banjir bah di dalamnya.

Tak perlu selalu dengan api kita musnah. Cukup dengan sungai yang tiba-tiba menjerit pada tanah yang selalu menatap langit, melompat, menerkamnya dengan kebingungan yang ia sendiri tak paham. Pernahkah?

Comments