Aku selalu berada di balik pintu ketika orang-orang menyebut namamu. Tanganku menempel pada pegangan pintu siap membuka, tapi nyaliku hanya sebatas itu.
Aku selalu terperanjat berdiri setiap kali aku sedang duduk orang-orang menyebut namamu. Kakiku mengejang siap berdansa, tapi nyaliku hanya sebatas itu.
Lampu sorot sedang mengarah padamu dalam dua bulan ini. Seperti festival hidup, kau mengundang tanya dan takjub. Berwarna-warni, naik, turun, dan berputar. Napasku terkumpul, banyak sekali, siap menyerukan namamu.
Tapi nyaliku hanya sebatas itu.
Comments
Post a Comment