Untuk yang Dulu Mempertanyakan Ketersesatan

Tulisan itu tak pernah tenggelam. Tak butuh waktu lama untuk menemukannya lagi, lalu membaca segala hiburan untuk sesuatu yang tersesat.

Aku sudah tidak takut tersesat, setidaknya selama matahari masih tinggi. Aku bergerak di sisi lain sebuah kota. Aku berada berkilo-kilometer dari rumah orangtuaku. Aku melihat pemandangan berubah-ubah. Dan kapanpun aku hendak pulang, meskipun ingatanku masih sama payahnya, aku bisa.

Lalu besoknya, aku ulangi jalanan itu. Sama seperti aku mengulangi bacaan itu.

Comments