Untuk yang Kurasa Perlu Datang Lagi

Aku tahu ini berita lama. Atap terakhir tempat kita bertemu sudah menaungkan atap baru di suatu tempat yang lebih jauh. Bagaimana keputusan itu muncul, aku tak tahu.

Aku semakin terikat pada aspal dan kursi di sekitarku daripada pada atap terakhir itu. Kadangkala aku mengira kau juga mencari jejakku, melalui tetesan teh di tengah malam atau palet baru di awal pagi. Tapi tentu saja, itu bisa jadi jejak siapapun. Sepertinya aku terlalu sering mengira-ngira.

Mengidolakanmu adalah buah tangan yang kudapat dari kunjungan-kunjunganku. Di antara bisingnya mesin penggiling kopi dan buih susu, adalah sebuah potret misterius berwujud dirimu. Lalu rasa hormatku menguar bersamaan dengan apapun racikan yang kau buat.

Selamat bertahun baru.

Comments