Orang-orang kira aku penyuka kopi. Coffee person, begitu istilah internasionalnya. Penilaian mereka muncul dari berapa kali aku pergi menemui orang-orang sepertimu. Yang tak mereka tahu adalah a.) aku suka tempatmu menyibukkan diri (ya, tempat), dan b.) aku suka melihatmu menyibukkan diri di tempatmu menyibukkan diri. Bukan suka dalam bentuk yang romantis; lebih cenderung dalam bentuk kekaguman.
Sebetulnya aku lebih suka teh panas yang kurang manis, yang bisa aku nikmati pelan dan lama. Kenyataannya, belum tentu juga tiga hari sekali aku minum teh. Jadi aku merasa tidak pantas untuk disebut tea person. Bagaimanapun, lebih mudah menelan air putih yang tidak panas. Berarti aku suka air putih? Tidak juga. Sama seperti komposisi udara yang aku hirup, air putih bukan sesuatu yang opsional. Lalu bagaimana dengan teh yang aku sukai itu?
Ah, suka tidak harus sering bertemu kok.
Comments
Post a Comment