Saat itu Januari hendak berakhir. Masih sering hujan, masih sering orang bermantel. Setelah sesorean berkeliaran tanpa arah, atap itu kutuju. Tidak seperti biasanya, kau tak lekas terlihat saat aku membuka pintu. Di antara aroma kopi yang samar mengudara, ada kehampaan di bidang pandangku.
Satu jam berikutnya, di beranda dengan meja berisi tiga orang aku berbincang ringan. Hujan menjadi sesuatu yang tidak perlu diprediksi kala itu, karena dia pasti datang. Hanya saja di saat aku tidak memperhatikan hujan, kehadiranmu turut lepas dari prediksi ketika kau ternyata sudah ada di meja sebelah.
Lalu siklus lama berputar lagi. Ada aku, ada kamu, tapi tak ada bincang. Kita hanya punya nama, tak punya cerita. Kita hanya punggung yang memunggungi satu sama lain.
Hujan masih turun, kau masih duduk di sana. Tanpa sapa, tanpa pandang. Hanya aku yang sesekali melirik. Sebatas itu. Seandainya aku tahu itu adalah kesempatan terakhirku untuk memperhatikanmu lebih jelas, aku pasti menyimak baik-baik. Bukan melambaikan tangan diam-diam dari kejauhan saat kau tidak menoleh ke arahku.
Comments
Post a Comment