Di waktu yang lampau, ada bara yang tak begitu kau sukai. Jenis bara yang tak kunjung lenyap, membuat arang tak henti memerah.
Pun bagiku, bara yang sama juga ada di tempat berbeda. Panas. Tak tersentuh. Menahan siapapun untuk mendekat. Menahanku.
Dedaunan mengalun di udara membawa hari baru. Suatu hari aku terbangun dan menyadari bara itu melemah. Terlalu lemah untuk disadari oleh mereka. Haruskah aku mengabaikan panasnya?
Comments
Post a Comment